Pernah nggak sih kamu sebagai orang tua tanpa sengaja bilang ke anak, “Ah, malu-maluin aja sih kamu!” atau “Udah deh, gak usah nangis, kecil banget masalahnya”?
Kedengarannya sepele, ya? Tapi tahukah kamu, kalimat-kalimat seperti itu bisa ninggalin bekas dalam di hati anak. Rasa malu melukai mental anak itu nyata banget, apalagi kalau ditambah perasaan nggak dianggap atau nggak didengar.
Menurut psikolog, hal-hal kecil yang kita anggap biasa ini bisa jadi pemicu tekanan emosional yang berat buat si kecil. Artikel ini bakal bahas kenapa rasa malu dan merasa tidak dianggap bisa melukai mental anak, plus tips praktis buat orang tua biar anak tumbuh lebih sehat secara emosi.
Kenapa Anak Gampang Banget Merasa Malu?
Anak-anak, terutama yang masih SD, lagi di fase sensitif banget soal penerimaan sosial. Mereka pengen diterima teman, guru, dan keluarga.
Psikolog anak Vera Itabiliana Hadiwidjojo bilang, anak belum punya kemampuan mikir rasional seperti orang dewasa. Jadi, hal kecil seperti nggak punya buku baru atau alat tulis lengkap bisa bikin mereka merasa “beda” dari yang lain.
Yang muncul? Rasa malu yang dalam, perasaan nggak setara, bahkan takut dinilai negatif sama orang sekitar. Bayangin deh, di usia segitu, dunia mereka masih terbatas di sekolah dan rumah. Kalau di situ aja udah merasa “kurang”, gimana mereka bisa percaya diri?
Rasa malu ini beda sama rasa bersalah biasa. Kalau bersalah itu “Aku salah karena melakukan ini”, rasa malu lebih ke “Aku sendiri yang jelek”. Ini yang bikin lebih ngena dan susah hilang.
Dampak Rasa Malu yang Terus Menerus pada Mental Anak
Kalau rasa malu ini dibiarkan menumpuk, efeknya nggak main-main. Anak bisa jadi pendiam berlebihan, mudah marah, atau bahkan menarik diri dari aktivitas yang dulu disenangi.
Beberapa dampak yang sering muncul:
- Harga diri rendah — Anak merasa dirinya nggak layak, susah buat coba hal baru karena takut gagal lagi.
- Kecemasan sosial — Mereka menghindari interaksi, takut dihakimi, yang bisa berlanjut sampai dewasa.
- Masalah tidur atau makan — Stres emosional bikin susah tidur atau nafsu makan hilang.
- Penolakan sekolah — Males banget ke sekolah karena takut bertemu situasi yang bikin malu.
- Pikiran ekstrem — Dalam kasus parah, kalau merasa nggak ada jalan keluar, bisa muncul keputusasaan.
Vera bilang, perubahan perilaku yang konsisten harus diperhatiin serius. Jangan dianggap “fase aja” atau “nanti juga hilang sendiri”.
Merasa Tidak Dianggap: Luka yang Lebih Dalam Lagi
Selain rasa malu, merasa tidak dianggap atau emosi di-invalidasi juga berbahaya. Ini terjadi waktu anak cerita masalahnya, tapi kita balas dengan “Ah, lebay aja” atau “Gak usah dipikirin”.
Anak jadi merasa sendirian menghadapi masalahnya. Padahal, mereka butuh ruang aman buat curhat tanpa dihakimi.
Kalau keluhan mereka sering diremehkan, anak belajar bahwa perasaannya nggak penting. Akibatnya? Mereka susah mengatur emosi sendiri nanti dewasa, mudah stres, atau bahkan sulit membangun hubungan sehat.
Psikolog bilang, invalidasi emosional ini bisa bikin anak merasa hidupnya rapuh, apalagi kalau ditambah faktor seperti kemiskinan struktural yang bikin ketidakpastian sehari-hari.
Contoh Nyata yang Sering Kita Lakukan Tanpa Sadar
Banyak banget lho contoh di kehidupan sehari-hari yang tanpa sadar bikin anak merasa malu atau nggak dianggap:
- Membandingkan anak dengan saudara atau teman: “Lihat tuh adeknya pinter, kamu kok gini?”
- Memarahi di depan umum: “Malu-maluin aja, nangis di sini!”
- Mengabaikan cerita mereka: “Udah, mama capek, cerita nanti aja.”
- Memberi label: “Kamu tuh pemalu banget sih!”
Hal-hal ini kelihatannya biasa, tapi buat anak, itu seperti bilang “Kamu nggak cukup baik apa adanya”. Lama-lama, mereka internalisasi dan percaya bahwa diri mereka memang bermasalah.
Apa Kata Psikolog Langsung Soal Ini?
Vera Itabiliana Hadiwidjojo, psikolog anak dan remaja, menekankan bahwa anak butuh figur aman untuk bercerita. Kalau nggak ada, dan keluhannya dianggap remeh, perasaan sendirian itu bisa makin berat.
Beliau bilang, “Ketika anak merasa tidak ada jalan keluar, tidak didengar, atau tidak punya figur aman untuk bercerita, pikiran ekstrem bisa muncul sebagai bentuk keputusasaan.”
Ini sinyal bahwa anak butuh dukungan psikologis secepatnya, bukan cuma disuruh “kuat aja”.
Penelitian dari psikolog lain seperti Brené Brown juga mendukung: Rasa malu yang kronis bisa merusak kemampuan anak untuk merasa layak dicintai. Bedanya, rasa bersalah bisa motivasi berubah, tapi rasa malu justru bikin stuck.
Cara Orang Tua Membantu Anak Mengatasi Rasa Malu dan Invalidation
Tenang, nggak ada orang tua sempurna. Yang penting, kita mulai sadar dan perbaiki pola asuh. Ini beberapa tips praktis:
- Validasi perasaan anak → Bilang “Mama ngerti kamu sedih karena itu” daripada “Gak usah sedih dong”.
- Hindari label negatif → Jangan bilang “pemalu” atau “penakut”. Ganti dengan “Kamu lagi butuh waktu buat nyaman ya?”
- Dengar aktif → Kasih ruang cerita tanpa langsung kasih solusi. Kadang mereka cuma butuh didengar.
- Puji usaha, bukan hasil → “Mama bangga kamu udah coba, meski belum berhasil.”
- Jadi contoh → Tunjukin cara menghadapi rasa malu sendiri, biar anak belajar.
- Ciptakan lingkungan aman → Di rumah, pastikan anak tahu boleh salah dan boleh cerita apa aja.
Kalau perlu, konsultasi ke psikolog anak juga oke banget. Lebih cepat ditangani, lebih baik.
Bangun Ketahanan Emosi Sejak Dini
Selain menghindari pemicu, kita juga bisa bantu anak bangun resilience. Ajari mereka bedain rasa malu sehat (yang motivasi improve) sama rasa malu toksik.
Dorong aktivitas yang bikin percaya diri, seperti olahraga, seni, atau kelompok bermain kecil. Yang penting, selalu ingetin bahwa mereka berharga apa adanya.
Lambat laun, anak bakal lebih kuat menghadapi dunia luar tanpa luka dalam yang tersembunyi.
Rasa malu melukai mental anak itu bukan isu kecil. Ditambah merasa tidak dianggap, bisa ninggalin dampak jangka panjang. Tapi dengan pola asuh yang penuh empati, kita bisa cegah itu semua.
Yuk, mulai hari ini lebih perhatian sama kata-kata dan respons kita ke anak. Mereka lagi belajar tentang dunia dari kita, lho.
Kalau kamu punya pengalaman serupa atau tips tambahan, share di komentar ya! Siapa tahu bisa bantu orang tua lain.