Pernah nggak sih kamu scroll Instagram atau TikTok, terus langsung iri sama hidup orang-orang kota? Kopi estetik di kafe kekinian, OOTD kece setiap hari, liburan mewah, gym rutin dengan badan goals, dan kerja produktif di co-working space. Kelihatan sempurna banget, ya? Tapi, tunggu dulu. Apakah gaya hidup urban di media sosial itu beneran mencerminkan kenyataan, atau cuma ilusi yang dibuat-buat?
Di era sekarang, media sosial jadi jendela utama buat ngintip gaya hidup masyarakat urban. Dengan lebih dari 180 juta pengguna di Indonesia, platform seperti Instagram dan TikTok penuh dengan konten yang bikin kita merasa “hidupku kok gini-gini aja”. Artikel ini bakal bahas potret gaya hidup urban di media sosial, dari yang tampak glamor sampai realita di baliknya. Siapkah kamu menghadapi faktanya?
Potret Gaya Hidup Urban yang Sering Muncul di Sosmed
Coba bayangin feed-mu pagi ini. Pasti banyak foto anak muda kota lagi nongkrong di kafe hits, latte art cantik, atau brunch dengan view gedung tinggi. Gaya hidup urban di media sosial sering digambarkan sebagai sesuatu yang trendy dan effortless.
Beberapa ciri khas yang selalu muncul:
- Kafe hopping dan makanan estetik: Setiap akhir pekan, pasti ada yang pamer kopi di spot Instagramable.
- Fashion dan OOTD: Outfit mahal, branded, dengan pose di tengah jalanan kota.
- Fitness dan wellness: Story gym pagi hari, yoga, atau running di taman kota.
- Produktivitas tinggi: Laptop di cafe, meeting, atau work from anywhere yang kelihatan sukses.
- Travel dan weekend getaway: Liburan ke Bali atau luar negeri, seolah rutinitas biasa.
Konten seperti ini bikin gaya hidup urban terlihat menarik dan achievable. Influencer dan teman-teman kita seolah hidup di dunia yang penuh kesenangan tanpa beban.
Di Balik Filter: Realita yang Jarang Ditampilkan
Tapi, yuk kita jujur. Di balik foto-foto itu, ada sisi lain yang jarang di-post. Gaya hidup urban di media sosial seringkali cuma highlight reel, bukan full story.
Realita masyarakat urban di kota besar seperti Jakarta atau Surabaya jauh dari sempurna. Macet setiap hari, kerja overtime sampai malam, tagihan numpuk, dan tekanan finansial buat maintain lifestyle.
Contoh nyata:
- Kopi di kafe hits? Mungkin cuma sekali sebulan, sisanya kopi sachet di kantor.
- Outfit kece? Banyak yang cicilan kartu kredit atau pinjol.
- Liburan mewah? Kadang pakai promo atau bahkan posed di spot gratisan.
Banyak orang urban yang capek mentally karena hustle culture. Bangun pagi, commuter line penuh, kerja sampai larut, lalu scroll sosmed lagi sebelum tidur. Itu lingkaran yang melelahkan.
Mengapa Ilusi Ini Begitu Kuat?
Kenapa kita mudah percaya kalau gaya hidup urban di media sosial itu realita? Karena platformnya dirancang begitu. Filter, editing app, dan algoritma yang nunjukin konten serupa terus-menerus.
Orang cenderung post momen terbaik saja. Jarang ada yang share saat lagi stres deadline, berantem sama pasangan, atau hari-hari biasa yang membosankan. Ini disebut curated life – hidup yang dipilih-pilih bagian bagusnya.
Di Indonesia, tren hustle culture dan #KaburAjaDulu juga menambah ilusi. Banyak anak muda merasa harus produktif terus, sukses di usia muda, atau kabur dari rutinitas dengan gaya hidup nomaden. Padahal, itu seringkali cuma escapism dari realita kerja keras di kota.
Dampak Psikologis: FOMO dan Perbandingan Diri
Salah satu efek terburuk dari gaya hidup urban di media sosial adalah FOMO – Fear of Missing Out. Kamu lihat teman lagi liburan, langsung merasa hidupmu kurang seru.
Ini bisa picu anxiety, depresi ringan, sampai perilaku konsumtif. Banyak yang beli barang branded atau ikut tren kafe biar bisa post dan feel included.
Studi menunjukkan, perbandingan sosial di medsos bikin banyak anak muda urban merasa tidak cukup. Mereka kejar standar yang nggak realistis, seperti badan perfect atau karier cepat naik.
Cara Bijak Menghadapi Gaya Hidup Urban di Media Sosial
Tenang, nggak perlu hapus akun sosmed kok. Yang penting, kita bijak menggunakannya. Beberapa tips praktis:
- Curate feed-mu: Follow akun yang inspiratif tapi realistis, unfollow yang bikin insecure.
- Ingat behind the scenes: Setiap post bagus pasti ada effort besar atau momen buruk yang nggak keliatan.
- Fokus pada diri sendiri: Buat goals pribadi, bukan ikut tren orang lain.
- Digital detox sesekali: Matikan notif, nikmati hidup offline.
- Share realita juga: Kalau kamu influencer atau aktif post, sesekali share sisi autentik biar orang lain nggak tertipu.
Dengan begitu, media sosial bisa jadi sumber inspirasi, bukan tekanan.
Kesimpulan
Gaya hidup urban di media sosial memang sering terlihat glamor dan sempurna, tapi itu lebih banyak ilusi daripada realita. Di balik filter dan editan, ada perjuangan sehari-hari yang bikin hidup kota jauh dari mudah. Yang terpenting, jangan biarkan sosmed mendikte kebahagiaanmu. Hidup autentik, nikmati prosesnya, dan ingat: kehidupan orang lain di feed cuma potongan kecil, bukan keseluruhan.
Kamu sendiri gimana? Sudah siap lebih bijak scroll sosmed? Share pendapatmu di komentar ya!



